Tarian dari Jambi
Tari Merak dari
Jawa Barat
Seni Tradisi (Nusantara) dan
Pembelajarannya di Sekolah
Oleh Sandie
Gunara (Pengajar FPBS UPI)
Sejak beberapa tahun ini, banyak dari kalangan penentu kurikulum memfokuskan diri pada seni tradisi. Selain itu, tak sedikit pula kalangan yang mempertanyakan kembali tentang kehidupan seni tradisi saat ini.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah, masih potensialkah jika kita mengangkat seni tradisi dimana ia hidup dalam kepungan budaya populer dan modern saat ini? serta mampukah seni tradisi memikat siswa dalam pembelajaran seni di sekolah dimana para siswa telah terpengaruhi dirinya dengan budaya populer dan modern saat ini? Belum banyak yang kemudian mempersoalkan bagaimana seni tradisi berperan dalam konteks kehidupan siswa?
Apakah
seni tradisi akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan siswa?
Bahkan menurut Prof. Waridi (seorang guru besar dari ISI Solo), masih jarang
yang mempertanyakan dan menggali secara sungguh-sungguh kemampuan dan potensi
nilai-nilai ketradisionalan seni nusantara dalam ikut menganyam pencitraan
identitas bangsa. Juga belum banyak yang mencoba membicarakan potensi seni
tradisi dalam konteks kekinian. Belum banyak pula yang menggagas untuk
menjadikan seni tradisi sebagai sarana penanaman nilai-nilai kenusantaraan
terhadap siswa-siswa sekolah sejak dini. Justru yang terjadi adalah sebuah
perdebatan yang tiada kunjung selesai terhadap pilihan-pilihan materi pendidikan
seni yang harus dikomposisikan dalam disain kurikulum sekolah formal serta
peminggiran-peminggiran eksistensinya.
Saya
pikir perdebatan semacam itu tidak akan kunjung selesai bila masing-masing
kelompok melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Di satu pihak ada yang
memandang bahwa tradisi itu kuno, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya.
Sementara di pihak lain ada yang memandang bahwa saat ini memandang seni tradisi
dalam konteks budaya Indonesia sangat diperlukan. Kenapa? Karena apabila dilihat
dari keberadaannya (diakui atau tidak), seni tradisi ternyata telah berhasil
membawa bangsa Indonesia ke dalam kancah pergaulan internasional. Seni tradisi
memiliki kemampuan dan potensi untuk mengangkat citra Indonesia di mata dunia.
Karena ternyata dengan seni lah Indonesia dapat dikenal dunia, daripada ekonomi
dan teknologinya. Sudah banyak seniman-seniman kita yang melanglang buana
keliling dunia dengan unjuk kabisa dalam bidang seni tradisi.
Seni Tradisi
Dari sudut
pandang kebudayaan, Prof. Waridi mengatakan bahwa seni adalah salah satu bentuk
ekspresi budaya. Kebudayaan ada karena sengaja diadakan oleh manusia untuk
membentuk sebuah peradaban bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya serta
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya hanya manusialah makhluk yang
berkebudayaan dan yang memiliki peradaban dalam hidupnya. Salah satu wujud
produk kebudayaan manusia, adalah seni. Dengan demikian, tidaklah berlebihan
jika kemudian banyak yang menyatakan, bahwa seni tradisi dapat mengungkapkan
sikap dan proses pengetahuan sosial. Bila demikian halnya, maka sebenarnya wujud
seni tradisi tidak hanya berurusan dengan estetika, melainkan di dalamnya
mengandung persoalan-persoalan non seni yang multidimensi.
Faktanya
di lapangan menunjukkan, bahwa seni tradisi memiliki wajah yang jamak
(multifaced). Artinya, bahwa seni tradisi dapat diamati dari berbagai sudut
pandang dan berbicara untuk mengungkapkan proses pengetahuan dan perilaku sosial
yang beragam pula. Dari konteks inilah kemudian ditemukan sebuah pemahaman,
bahwa seni tradisi lahir sesuai dengan tingkat peradaban manusia pendukungnya.
Oleh karenanya dalam seni tradisi di dalamnya mengandung pengetahuan peradaban
komunitas-komunitas manusia Indonesia yang beragam. Dalam kaitan ini, kebudayaan
Indonesia sebagian terekspresikan lewat beragam seni tradisi yang hidup di
Indonesia itu. Maka, bukan sesuatu yang tidak masuk akal jika seni nusantara itu
menjelma menjadi sebuah tradisi yang secara terus menerus berupaya diwariskan
dan dipelajari dari generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi
berasal dari bahasa Inggris yaitu kata tradition, kita memahaminya sebagai
sesuatu yang bersifat turun-temurun, kebiasaan, adat istiadat, dan sebagainya.
Apabila dikaitkan dengan seni, merujuk pada pernyataan Prof. Waridi, tradisi
mengandung pengertian seni-seni yang keberadaan dan perkembangannya merupakan
warisan dari generasi ke generasi sebelumnya yang di dalamnya sarat dengan
konvensi-konvensi, serta berkaitan dengan kebutuhan sistem-sosial kehidupan
membudaya masyarakat pendukungnya. Walaupun seni tradisi merupakan warisan dari
generasi ke generasi, akan tetapi bukan berarti hidup secara statis, ia terus
berjalan dan berdialog dengan proses peradaban yang melingkupinya. Oleh
karenanya saya menggarisbawahi pernyataan beliau yang mengatakan bahwa adalah
wajar bilamana seni tradisi secara wujud, fungsi, dan maknanya selalu
berubah-ubah seirama dengan dinamika sosial budaya masyarakat. Perubahan itu
bisa saja terletak pada pengolahan bentuk, pengetahuan, serta muatan perilaku
sosial yang terdapat di dalamnya.
Berbicara tentang seni tradisi, menurut saya penting untuk dipelajari oleh siswa
di sekolah, karena di dalamnya terkandung makna-makna yang pantas untuk
diteladani dalam konteks kehidupan manusia secara berkesinambungan. Bahkan Ki
Hajar Dewantara memandang bahwa mempelajari seni tradisi dapat menghaluskan budi
kita. Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa alat untuk menghaluskan budi ini
ialah halusnya pendengaran dan penglihatan (misalnya belajar gamelan).
Penglihatan berpengaruh pada pikiran kita, sedangkan pendengaran berpengaruh
pada perasaan atau perangai. Jadi, dengan halusnya kedua panca indera tersebut
maka akan berakibat halusnya manusia. Kenapa manusia menjadi halus? Hal ini
disebabkan karena panca indera kita merupakan alat-alat manusia yang
menghubungkan jiwanya dengan dunia luar.
Dari
pernyataan Prof. Waridi dan Ki Hajar Dewantara tersebut, ternyata dalam seni
tradisi terdapat makna esensial dan ruh yang pantas untuk diteruskan. Tetapi
masalahnya sekarang adalah bagaimana cara untuk menyikapi seni tradisi agar
tetap dapat berperan dalam pembelajaran di sekolah. Menurut saya hal tersebut
merupakan sesuatu yang amat sangat kompleks, kenapa? karena pada saat ini,
kehidupan seni tradisi disekolah dihadapkan pada gemerlapnya budaya populer yang
lebih menghibur dan sesuai dengan selera siswa. Sehingga membutuhkan pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan konteks keadaan siswa dan konteks lingkungan
yang mempengaruhinya.
Tantangan Seni Tradisi di Sekolah
Keberadaan seni tradisi di era globalisasi dihadapkan kepada sejumlah tantangan
yang cukup kompleks. Saya setuju apa yang dikatakan oleh Prof. Waridi, tentang
tantangan-tantangan yang dihadapi seni tradisi saat ini, terutama di sekolah.
Hal itu dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1.
Kontinuitas pemahaman dan apresiasi (siswa) terhadap seni tradisi dari waktu ke
waktu cenderung semakin menipis. Artinya telah terdapat kecenderungan
diskontinuitas di tingkat apresiasi dan pemahaman. Persoalan ini sangat mungkin
terjadi karena;
2.
Kurang tersedianya ruang dan sarana yang cukup bagi (siswa) anak-anak muda untuk
mendapat kesempatan mengapresiasi seni tradisi secara serius.
3.
Belum terjadi proses internalisasi unsur-unsur seni tradisi secara wajar,
sinambung, dan sistemik dalam usia anak dini dan remaja. Dalam artian
pembelajaran seni saat ini, masih mengabaikan konteks keadaan siswa dan
lingkungannya.
4.
Sebagian seni tradisi cenderung tampil kurang menggairahkan, karena dalam
keadaan lesu darah. Hal ini berkaitan dengan persoalan semakin memudarnya
patron-patron yang memayungi seni tradisi untuk terus mampu melakukan aktivitas
pentas maupun kegiatan-kegiatan yang berada di tengah-tengah masyarakat. Seperti
kurangnya dukungan dari pemda-pemda dalam upaya menghidupkan kembali seni
tradisi.
5.
Berhadapan dengan kebudayaan seni pop yang dipandang dapat mencitrakan gejolak
emosi anak muda (siswa remaja).
6.
Munculnya kekuatan kapitalis yang bergerak dalam industri budaya, cenderung
memberi ruang sangat luas terhadap jenis-jenis seni populer. Secara realitas
kekuatan ini sulit untuk dihindari dan masyarakat seni tradisi tidak memiliki
kekuatan untuk mengimbanginya. Akibatnya satu kendala yang lain segera
melengkapi tantangan-tantangan lainnya yang muncul dalam dunia seni tradisi,
yaitu;
7. Seni
tradisi lebih dipandang dan dicitrakan sebagai seni masa lalu yang kurang
mencitrakan kemodernan. Bila demikian terdapat sesuatu yang agak menggelisahkan,
yakni kemungkinan munculnya suatu persepsi yang memandang, bahwa seni populer
dalam perspektif umum dijadikan sebagai ukuran atau standar mutu keberadaan
sebuah seni termasuk festival-festival atau kontes-kontes pada suatu bangsa.
Tanda-tanda ini mulai muncul di Indonesia, yakni penilaian yang didasarkan atas
banyaknya dukungan yang masuk terhadap seseorang atau sekelompok orang yang
berdampak langsung terhadap dimenangkannya seseorang dalam suatu kontes
kesenian. Tindakan semacam ini secara jelas telah terdapat upaya-upaya dari
sekelompok orang untuk menggeser persoalan subjektivitas kesenian ke arah
objektivitas publik.
Salah
satu ciri esensial subjektivitas dalam penilaian terhadap suatu kualitas
kesenian biasanya dipercayakan kepada dewan pakar atau seorang ahli dibidangnya,
sementara yang berkembang saat ini, kewenangannya dialihkan kepada publik.
Penilaian dari dewan pakar untuk menentukan kualitas suatu sajian kesenian,
biasanya disertai analisis yang mendalam terhadap berbagai unsur-unsur yang
terdapat di dalamnya. Pertimbangan yang diambil lebih mengutamakan
persoalan-persoalan estetik dan konteksnya, sehingga hasil penilaiannya dapat
dipertanggungjawabkan. Sementara di sisi lain penilaian yang dilakukan oleh
publik sering tercampur dengan persoalan "suka atau tidak suka".
Akibatnya bisa saja terjadi, bahwa yang menang bukan mencerminkan kualitas yang
sesungguhnya, dalam kata lain kemenangan yang bersifat semu. Bilamana ini
menggelinding secara terus menerus, bisa jadi dapat berpengaruh kuat terhadap
terbentuknya opini dan persepsi publik, bahwa seni yang dianggap baik adalah
seni yang disenangi oleh banyak orang, bukan seni yang secara fungsional mampu
hidup dalam konteks kehidupan membudaya masyarakatnya. Pemahaman seperti itu
secara jelas hanya memandang, bahwa seni semata-mata didudukkan sebagai objek
hiburan. Dari awal persepsi yang demikian itulah seni tradisi nusantara mulai
mengalami kesenjangan di kalangan anak muda (siswa). Seni tradisi sudah tidak
lagi dipandang sebagai bagian dari kebudayaan mereka.
Jadi,
dari pernyataan di atas, kenyataan tantangan-tantangan tersebut melahirkan dua
persepsi, yakni pertama pandangan yang menempatkan massa sebagai basis orientasi
penilaian. Dalam persepsi ini tergambar, bahwa baik dan buruk suatu karya seni
didasarkan atas pertimbangan selera massa dari pada kualitas yang dilegitimasi
oleh ahlinya. Secara jelas cara semacam ini dilatari oleh semangat budaya
populer dan kapitalis, dimana partisipasi sebanyak-banyaknya dari masyarakat
merupakan salah satu tujuan untuk meneguk keuntungan finansial. Situasi yang
demikian ini seni tradisi telah dilepaskan dari roh spiritualitasnya dan
menjelma menjadi bagian seni yang bersifat profan dan hiburan. Nilai-nilai
toleransi, perekat sosial, kebersamaan, kemerdekaan, kreatifitas, dan
kesetiakawanan sosial menjadi hilang. Persepsi kedua, tetap menempatkan seni
tradisi sebagai basis kekaryaan dan sarana internalisasi nilai-nilai tersebut di
atas. Persepsi yang kedua ini umumnya memilih jalur mengolah potensi yang
terdapat dalam seni tradisi dengan tetap mempertimbangkan aspek kulturalnya,
yakni mengolah seni tradisi dengan pendekatan reinterpretasi. Tentunya dua
persepsi ini berdampak secara signifikan terhadap apresiasi masyarakat terhadap
pendidikan seni tradisi.
Seni Tradisi dalam Pembelajaran di Sekolah
Seni
tradisi mempunyai potensi yang cukup beragam dan memiliki kemampuan untuk
merangsang imajinasi kreatif bagi para siswa. Menurut Prof. Waridi, potensi itu
setidaknya dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1.seni
tradisi nusantara cukup beragam dan masing-masing memiliki keunikan sesuai
dengan kelokalannya.
2.memiliki ragam instrumen, tangga nada, serta teknik permainannya secara
spesifik.
3.memiliki ragam lagu dan vokabuler permainan.
4.memiliki ragam struktur dan bentuk.
Dari
keberagaman tersebut, implementasinya dalam pembelajaran di sekolah dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Pendekatan re-interpretasi
menjadi tawaran yang memungkinkan dapat menjaga keberlanjutan seni tradisi agar
tetap mampu berbicara dalam konteks pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain,
seni tradisi hanya dijadikan sebagai media pembelajaran untuk merangsang
kreativitas siswa. Nilai-nilai atau ruh yang terkandung dalam seni tradisi dapat
direinterpretasikan melalui media lain sesuai dengan keadaan siswa dan sarana
prasarana sekolah.
Pendekatan lainnya yakni pendekatan 'modernisme' dapat dimanfaatkan untuk
melahirkan karya seni dengan cita rasa kekinian yang berbasis pada seni tradisi.
Artinya, dari proses reinterpretasi tersebut siswa kemudian diajak ke konteks
kehidupan saat ini (modern), sehingga diharapkan dapat melahirkan hasil karya
seni melalui media lain, misalnya alat musik yang terbuat dari bahan-bahan daur
ulang dan lain sebagainya tanpa meninggalkan esensi dan ruh yang terkandung
dalam seni tradisi.
Jadi
melalui dua pendekatan di atas, atau mungkin berbagai pendekatan lainnya,
pembelajaran seni tradisi diharapkan mampu mendorong kreativitas anak, sehingga
pada diri siswa tumbuh kesadaran estetis, toleran, sikap kritis terhadap karya
seni, berbudi luhur, dan mempunyai jati diri yakni jati diri sebagai warga
Indonesia, sehingga akhirnya dengan mempelajari seni tradisi, apresiasi
siswa/masyarakat terhadap pembelajaran seni akan semakin meningkat pula. Dan
yang tak kalah pentingnya yakni peran guru dan kebijakan sekolah. Kebijakan
sekolah dan guru yang menaruh perhatian besar terhadap pembelajaran seni
sesungguhnya mampu memberi dorongan terhadap semakin menguatnya apresiasi
masyarakat terhadap pembelajaran seni khususnya seni tradisi.
(***)






Posting Komentar